Oleh: Zega Kim
Surakarta, 8 November 2025
Mendapatkan pendidikan yang layak merupakan hak setiap anak. Namun bagi banyak anak dari keluarga miskin ekstrem, hak tersebut kerap terhalang oleh kondisi ekonomi. Di tengah realitas tersebut, Program Sekolah Rakyat hadir sebagai angin segar—membuka pintu kesempatan melalui pendidikan berasrama gratis dan berkualitas, sekaligus membentuk ruang tumbuh yang manusiawi.
Salah satu wajah dari generasi pertama penerima manfaat program ini adalah Danindra, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) di Surakarta. Kisah hidupnya menjadi potret jelas bagaimana pendidikan dapat mengubah arah sebuah masa depan.
Ayah Danindra adalah seorang penjual es yang harus berhenti bekerja akibat sakit stroke, sementara ibunya bekerja sebagai buruh pabrik. Keluarga ini hidup dengan penuh keterbatasan. Sebelum diterima di SRMA, Danindra kerap merasa mimpinya menjadi cita-cita yang terlalu jauh. Sekolah sering terasa seperti tempat mengejar sesuatu yang sulit diraih.
Namun keadaan berubah ketika ia diterima di Sekolah Rakyat.
Di asrama, kebutuhan dasar pendidikan dipenuhi sepenuhnya oleh negara: mulai dari buku, seragam, tempat tinggal, hingga makanan yang terjamin gizinya. Hari-harinya kini berjalan teratur—dimulai pukul 04.15 dengan ibadah pagi, sarapan sehat, lalu mengikuti pembelajaran yang intensif namun menyenangkan.
Danindra menemukan kembali keyakinannya. Ia mulai gemar membaca, rajin berlari di lapangan sekolah, dan aktif terlibat dalam kegiatan akademik dan pembinaan karakter. Lingkungan belajar yang kondusif dan fasilitas yang memadai—dari perpustakaan digital hingga sarana olahraga—mengubah cara ia melihat dunia.
“Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar. Ini tempat saya dibentuk menjadi versi terbaik dari diri saya,” kata Danindra.
Program Sekolah Rakyat sendiri telah memasuki tahap awal implementasi dengan ratusan titik sekolah dan ribuan siswa yang sudah bernaung di dalamnya. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan potensi setiap anak bangsa dapat tumbuh, tanpa memandang latar belakang sosial-ekonomi keluarganya.
Anak-anak yang dulu ragu akan masa depan mereka, kini memegang harapan yang nyata. Mereka tidak hanya diberi pendidikan, tetapi diberikan ruang untuk bermimpi dan mewujudkannya.
Apabila program ini terus dijaga kualitasnya, diperluas jangkauannya, dan didukung oleh seluruh elemen bangsa, maka titik-titik harapan yang kini menyala akan bertambah banyak. Mereka kelak akan menjadi fondasi kokoh menuju Indonesia Emas 2045 — sebuah bangsa yang berdiri di atas kesetaraan akses pendidikan dan sumber daya manusia yang unggul.
Danindra hanyalah satu cerita. Namun darinya, kita tahu satu hal:
Ketika sebuah bangsa sungguh-sungguh menjaga anak-anaknya, masa depan itu menjadi lebih terang.





