Oleh: Dito Bagus Sutanto
Jakarta, 9 November 2025
Kemiskinan bukan semata persoalan ekonomi. Ia adalah persoalan akses dan kesempatan — terutama kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tingkat kemiskinan nasional pada Maret 2025 berada pada angka 8,47%, atau sekitar 23,85 juta jiwa. Meskipun menurun dari periode sebelumnya, angka tersebut masih menunjukkan realita bahwa banyak anak Indonesia tumbuh dengan potensi besar yang terhalang oleh keterbatasan biaya.
Anak-anak yang berasal dari keluarga prasejahtera sangat berisiko untuk mewarisi kemiskinan yang dialami orang tuanya. Tanpa intervensi, kemiskinan akan terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sinilah Program Sekolah Rakyat mengambil peran penting sebagai gerakan strategis untuk memutus mata rantai tersebut melalui jalur pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Sebuah Terobosan untuk Keadilan Sosial
Program Sekolah Rakyat merupakan inisiatif prioritas Presiden Prabowo Subianto yang dijalankan melalui Kementerian Sosial (Kemensos). Memasuki tahun ajaran 2025–2026, Kemensos telah menyiapkan lebih dari 50 lokasi awal, yang dipetakan berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) serta tingkat kemiskinan ekstrem di berbagai daerah.
Sasarannya jelas:
Anak-anak dari keluarga desil 1 dan 2 — mereka yang paling rentan, yang selama ini berada di luar radar kesempatan.
Sekolah Rakyat menanggung 100% kebutuhan pendidikan siswa, mulai dari:
- Seragam sekolah
- Buku dan perlengkapan belajar
- Makan bergizi
- Asrama dan pembinaan karakter
- Serta pendampingan sosial
Namun terobosannya tidak berhenti pada siswa. Program ini juga dirancang untuk memberdayakan keluarga dan komunitas melalui akses ke program sosial dan ekonomi Kemensos lainnya. Dengan demikian, Sekolah Rakyat bukan hanya memberi “tempat sekolah”, tetapi membangun lingkaran dukungan yang memungkinkan anak berkembang tanpa meninggalkan keluarganya dalam kesulitan.
Perluasan Dampak Nyata di Lapangan
Seiring peluncuran tahap awal pada Juli 2025, dampaknya mulai terlihat secara konkret. Berdasarkan data Kemensos, hingga tahap 1C pada Oktober 2025, terdapat penambahan 65 titik Sekolah Rakyat, sehingga jumlah totalnya kini mencapai:
- 165 titik Sekolah Rakyat aktif beroperasi
- Menampung 6.190 siswa
- Dengan 248 rombongan belajar di seluruh Indonesia
Selain memperluas akses pendidikan, pembukaan titik sekolah baru juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi guru, pembina asrama, tenaga kesehatan sekolah, pendamping sosial, hingga petugas dapur dan pengelola komunitas.
Ini berarti Sekolah Rakyat tidak hanya menciptakan generasi berpendidikan, tetapi juga menguatkan struktur ekonomi lokal.
Lebih dari Sekadar Sekolah
Pada dasarnya, Sekolah Rakyat adalah investasi jangka panjang pada kualitas manusia.
Ia mengubah pola pikir: bahwa setiap anak Indonesia — tanpa memandang latar belakang — berhak memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan meraih masa depan yang lebih baik.
Jika program ini terus dijalankan dengan konsistensi dan kualitas yang terjaga, titik-titik harapan yang kini mulai menyala perlahan akan membentuk jaringan cahaya yang lebih luas.
Jejak inilah yang kelak menjadi fondasi Indonesia Emas 2045:
sebuah bangsa yang kuat karena memberi tempat dan masa depan kepada setiap anaknya.





