Oleh: Maria Noveliana
Jakarta, 7 November 2025
Di tengah diskusi publik mengenai masa depan generasi penerus, muncul pandangan yang menyatakan bahwa jika bangsa ingin memiliki generasi yang cerdas dan kritis, maka negara cukup menyediakan pendidikan gratis, bukan makanan bergizi gratis. Padahal, pandangan tersebut justru mengabaikan faktor paling mendasar dalam membangun kualitas manusia: kesehatan dan kecukupan gizi.
Pendidikan memang merupakan hak setiap warga negara. Namun pendidikan tidak akan maksimal tanpa kondisi fisik dan mental yang sehat. Dalam proses belajar, otak membutuhkan energi dan nutrisi untuk bekerja. Tanpa asupan gizi yang seimbang, kemampuan konsentrasi, daya tangkap, serta kemampuan berpikir kritis akan menurun drastis.
“Tidak ada pendidikan yang efektif bila anak dalam keadaan lapar atau kekurangan gizi. Otak tidak bisa dipaksa bekerja tanpa bahan bakar,” tegas Prof. Wahono, pakar pendidikan.
Penelitian medis menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada masa kanak-kanak berdampak langsung pada struktur dan fungsi otak. Anak dengan nutrisi buruk cenderung:
- Sulit fokus saat belajar
- Memiliki perkembangan IQ yang terhambat
- Lebih mudah lelah dan tidak stabil secara emosional
- Rentan tertinggal dalam pelajaran dibandingkan teman sebaya
Artinya, gizi yang baik adalah prasyarat dasar agar pendidikan dapat berjalan efektif.
Dalam konteks ini, penyediaan makanan bergizi gratis bukan sekadar program sosial, melainkan strategi pendidikan jangka panjang. Negara-negara dengan tingkat literasi dan kualitas SDM tinggi justru memadukan dua hal: makanan bergizi + akses pendidikan.
Lebih jauh lagi, Indonesia masih menghadapi tantangan stunting dan anemia pada anak. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa lebih dari 1 dari 5 anak Indonesia mengalami stunting, kondisi yang menghambat perkembangan otak secara permanen. Tanpa intervensi gizi, peningkatan kualitas pendidikan hanya akan dirasakan oleh sebagian kecil, sementara yang lain tetap tertinggal.
Program makanan bergizi gratis bukan berarti mengurangi fokus pada pendidikan. Sebaliknya, program ini memperkuat pondasi biologis dan kognitif agar pendidikan bisa berhasil. Generasi yang lapar atau tidak sehat tidak dapat menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing global.
Maka, menolak makanan bergizi gratis atas alasan “lebih baik pendidikan gratis” menunjukkan pemahaman yang tidak utuh. Keduanya bukan untuk dipilih salah satu — keduanya justru harus berjalan bersamaan.
Karena untuk membangun masa depan, kita tidak hanya membutuhkan sekolah yang terbuka, tetapi juga anak-anak yang kuat, sehat, dan mampu menyerap ilmu dengan optimal.
Bangsa yang cerdas dimulai dari perut yang sehat. Dan bangsa yang kuat dimulai dari kebijakan yang memahami akar persoalan, bukan hanya permukaan.





