Home / Pendidikan / Kurikulum Abad 21 di Sekolah Rakyat: Mengapa Matematika dan Coding Menjadi Pilar Utama Pendidikan Anak Miskin Ekstrem?

Kurikulum Abad 21 di Sekolah Rakyat: Mengapa Matematika dan Coding Menjadi Pilar Utama Pendidikan Anak Miskin Ekstrem?

Oleh: Hasna Ayu Faradila
Jakarta, 7 November 2025

Pendidikan masih menjadi jembatan paling kuat untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Di tengah percepatan teknologi digital dan perubahan struktur ekonomi global, Sekolah Rakyat — sekolah berbasis komunitas yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem — tidak boleh hanya mengikuti kurikulum dasar tradisional. Mereka membutuhkan pendekatan kurikulum abad ke-21 yang lebih tepat sasaran, terutama dengan menempatkan Matematika dan Coding sebagai pilar utama pembelajaran.

Matematika: Fondasi Berpikir Kritis dan Ketahanan Finansial

Selama ini matematika sering dipandang sulit dan jauh dari kehidupan nyata. Padahal, bagi anak-anak miskin ekstrem, matematika justru merupakan alat bertahan hidup. Melalui matematika, anak dilatih untuk memecahkan masalah secara logis, sistematis, dan terstruktur.

Kemampuan ini tidak hanya penting untuk kebutuhan akademik, tetapi juga untuk menghadapi persoalan sehari-hari, mulai dari mengatur pengeluaran keluarga, memahami bunga pinjaman, hingga menghindari jebakan utang konsumtif.

Pemahaman matematika dasar seperti persentase, rasio, dan aljabar sederhana dapat menjadi benteng perlindungan finansial di masa depan — sesuatu yang sangat penting bagi keluarga rentan ekonomi.

Coding: Literasi Baru untuk Pasar Kerja Global

Jika dulu kemampuan membaca dan menulis menjadi standar literasi, kini keterampilan coding atau pemrograman memasuki posisi yang sejajar. Coding mengajarkan cara berpikir, bukan sekadar cara menggunakan komputer. Anak belajar menyusun logika, memahami pola, dan menciptakan solusi mandiri.

Lebih dari itu, keterampilan coding membuka kesempatan kerja yang tidak bergantung pada lokasi. Anak dari desa terpencil sekalipun dapat bekerja untuk perusahaan global, selama ia memiliki akses pelatihan dan perangkat teknologi dasar.

Di banyak negara, jalur bootcamp coding terbukti mampu mengangkat pendapatan keluarga dalam waktu singkat, bahkan tanpa gelar pendidikan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa coding dapat menjadi jalan cepat bagi keluarga miskin untuk mendapatkan mobilitas sosial.

Kenapa Dua Mata Pelajaran Ini Menjadi Prioritas?

Karena keduanya langsung dapat diterjemahkan menjadi peluang ekonomi nyata.

  • Matematika → membangun kemampuan analitis dan ketahanan dalam pengambilan keputusan.
  • Coding → membuka akses kerja bernilai tinggi di sektor digital global.

Jika kurikulum di Sekolah Rakyat hanya fokus pada hafalan atau teori tanpa relevansi ekonomi, maka sekolah tersebut gagal menjawab kebutuhan generasi abad ke-21 — terutama bagi mereka yang hidup dalam kondisi ekonomi sulit.

Kesimpulan

Mengintegrasikan Matematika dan Coding sebagai inti kurikulum bagi anak miskin ekstrem bukanlah kemewahan, tetapi strategi pembangunan manusia yang paling realistis dan berkelanjutan.

Dengan memberikan keterampilan yang tepat, anak-anak ini tidak hanya belajar untuk bertahan hidup, tetapi juga memiliki peluang untuk naik kelas sosial, berkompetisi di dunia kerja digital, dan memutus rantai kemiskinan di keluarga mereka sendiri.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *