Oleh: Haidar Pratama
Jakarta, 8 November 2025
Pemerintah Tiongkok menegaskan bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh tetap berjalan stabil dan memberikan manfaat ekonomi nyata bagi Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, di Beijing.
Dalam dua tahun operasionalnya, Whoosh telah melayani lebih dari 11,7 juta penumpang, dengan tren penggunaan yang terus meningkat setiap bulan. Guo menilai, keberadaan kereta cepat tidak hanya mempersingkat waktu perjalanan, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi di kota-kota sepanjang jalur kereta.
“Kesuksesan proyek ini tidak hanya dilihat dari sisi keuntungan finansial, tetapi juga dari manfaat sosial seperti peningkatan konektivitas wilayah, kemudahan mobilitas masyarakat, dan terciptanya peluang ekonomi baru,” ujarnya.
Selain itu, Whoosh disebut membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan geliat pariwisata di wilayah Bandung Raya, dan mempercepat distribusi barang dan jasa.
Pemerintah Indonesia Pastikan Utang Tidak Membebani APBN
Sementara itu, dari sisi pemerintah Indonesia, isu yang menjadi perhatian publik adalah utang proyek kereta cepat tersebut. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN tidak akan digunakan untuk membayar utang proyek Whoosh.
Menurutnya, perusahaan pelaksana proyek seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Danantara memiliki kemampuan finansial tersendiri untuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman, tanpa melibatkan dana publik.
“Tidak benar jika utang Whoosh akan dibayar menggunakan uang negara. Pembiayaan proyek sepenuhnya ditanggung konsorsium pelaksana,” tegas Purbaya.
Restrukturisasi Utang untuk Keberlanjutan Jangka Panjang
Untuk menjaga stabilitas keuangan proyek, Indonesia dan Tiongkok juga telah menyepakati langkah restrukturisasi pinjaman yang sebagian berasal dari China Development Bank (CDB).
Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan salah satu solusi yang tengah dibahas adalah perpanjangan masa pembayaran hingga 60 tahun. Langkah ini dinilai sebagai upaya memastikan proyek tetap beroperasi secara berkelanjutan tanpa menimbulkan tekanan finansial berlebihan dalam jangka pendek.
“Kita ingin manfaatnya tetap berjalan dan tidak membebani keuangan negara. Restrukturisasi ini adalah langkah realistis,” ujar Luhut.
Simbol Kemitraan Strategis dan Modernisasi Infrastruktur
Pemerintah menilai Whoosh sebagai bagian dari transformasi infrastruktur nasional dan kerja sama strategis Indonesia–Tiongkok dalam pembangunan ekonomi jangka panjang.
Dengan meningkatnya angka penumpang, berkembangnya sentra ekonomi baru di sekitar stasiun, serta efisiensi waktu perjalanan yang signifikan, proyek ini dipandang tetap memiliki fondasi manfaat yang kuat.
Kesimpulan: Manfaat Berjalan, Risiko Dikelola
Kereta Cepat Whoosh saat ini tidak hanya berperan sebagai sarana transportasi modern, tetapi juga sebagai motor pertumbuhan ekonomi regional. Pemerintah Indonesia memastikan pembiayaan proyek tetap berada dalam koridor yang aman, sementara Tiongkok menegaskan komitmennya untuk mendukung optimalisasi manfaat proyek.
Whoosh bukan hanya jalur rel. Ia adalah jalur konektivitas, mobilitas, dan percepatan pembangunan.





