Oleh: Icim
Surakarta, 26 November 2025
Belakangan ini, keresahan masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah semakin terasa nyata. Tidak selalu terdengar lewat demonstrasi, tetapi muncul lewat obrolan warung kopi, komentar netizen, hingga tatapan hening di antrean bantuan sosial. Pertanyaannya sederhana namun menohok: “Jika semua kebijakan dibuat untuk rakyat, mengapa rakyat masih merasa sendirian?”.
Pemerintah sering menegaskan bahwa setiap kebijakan telah melalui kajian mendalam. Namun dalam praktik, masyarakat justru sering diminta beradaptasi dengan kebijakan, bukan kebijakan yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. Di momen-momen tertentu, kebijakan terasa seperti datang dari menara tinggi: melayang dengan gagah, namun sulit mendarat di tanah tempat rakyat berpijak.
Partisipasi masyarakat disebut penting dalam perumusan kebijakan. Faktanya, masyarakat kerap hanya menjadi angka dalam survei dan kolom isian kuesioner. Setelah data terkumpul, suara publik perlahan menghilang dari ruang rapat. Rakyat menjadi bagian dari perencanaan kebijakan hanya sampai tahap pendataan, setelah itu mereka kembali menjadi penonton.
Kita semua mengenal istilah “program strategis nasional” atau “transformasi digital”. Indah terdengar, apalagi jika dibacakan dengan nada optimis. Namun keindahan itu sering berakhir di spanduk sosialisasi, bukan di dapur-dapur rakyat. Digitalisasi layanan publik, misalnya, terasa sangat maju kecuali di daerah yang sinyalnya masih berjalan kaki.
Keresahan masyarakat bukan tanda perlawanan, tetapi tanda bahwa mereka masih berharap. Rakyat sebenarnya tidak menuntut kemewahan, hanya ingin kebijakan yang mengenali kenyataan. Mereka tidak membutuhkan istilah teknokratis rumit, cukup kebijakan yang hadir tanpa perlu dijelaskan lewat seminar.
Mereka tidak meminta perhatian, hanya ingin didengar. Tidak butuh pidato panjang, hanya ingin solusi konkret. Karena kebijakan yang paling pro rakyat adalah yang bisa dirasakan, bukan hanya dibicarakan.
Kebijakan publik memang tidak akan sempurna. Tetapi bisa menjadi sederhana jika menyentuh kebutuhan rakyat, bukan sekadar memenuhi target administrasi. Masyarakat tidak menolak perubahan, mereka hanya menunggu bukti bahwa perubahan itu benar-benar menyertai hidup mereka.





